Diabetes melitus tipe II merupakan penyakit metabolik kronis yang menjadi masalah kesehatan global dengan prevalensi terus meningkat, ditandai dengan resistensi insulin dan hiperglikemia yang dapat menyebabkan komplikasi serius seperti gangguan kardiovaskular, gagal ginjal, amputasi, dan kematian dini. Data International Diabetes Federation 2021 menunjukkan 536 juta penderita diabetes global dengan proyeksi mencapai 783,7 juta pada 2045. Indonesia menduduki peringkat kedua di Asia Pasifik dengan 19,5 juta penderita, sementara Sumatera Utara mencatat 225.587 kasus dengan hanya 30,22% mendapat penanganan medis. Aktivitas fisik merupakan salah satu pilar penting pengelolaan diabetes melitus yang dapat menurunkan kadar gula darah melalui peningkatan pengambilan glukosa oleh otot dan perbaikan sensitivitas insulin, namun implementasinya masih belum optimal di masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan aktivitas fisik dengan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe II di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2024 untuk memberikan dasar pengembangan program intervensi aktivitas fisik terstruktur. Metode penelitian menggunakan desain cross-sectional korelasional dengan teknik convenience sampling. Populasi penelitian adalah pasien rawat jalan diabetes melitus tipe II dengan rata-rata 173 kunjungan per bulan, sampel sebanyak 120 responden memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) 16 pertanyaan terstandarisasi mengukur aktivitas fisik dalam METs, dan glucometer Sinocare untuk kadar gula darah sewaktu. Data dianalisis menggunakan uji Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan rerata aktivitas fisik 1490,30 METs dengan mayoritas aktivitas sedang 58,3%, rerata kadar gula darah 188,80 mg/dL, dan terdapat hubungan signifikan negatif dengan kekuatan korelasi sedang (p<0,001; r=0,512). Karakteristik responden menunjukkan rerata usia 54,58 tahun dengan dominasi laki-laki 53,3%. Kesimpulan penelitian menyimpulkan bahwa peningkatan aktivitas fisik berhubungan dengan penurunan kadar gula darah, sehingga diperlukan program edukasi aktivitas fisik terstruktur, modifikasi gaya hidup berkelanjutan, dan pendekatan komprehensif mengintegrasikan manajemen pola makan serta kepatuhan terapi untuk mencapai kontrol glikemik optimal.
Copyrights © 2026