Hipertensi merupakan penyakit kronis yang disebut "the silent killer" karena sebagian besar penderita tidak menyadari kondisinya hingga terjadi komplikasi serius seperti gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal kronik. Data World Health Organization tahun 2021 menunjukkan 1,28 miliar penderita hipertensi di dunia dengan proyeksi mencapai 1,5 miliar pada tahun 2025. Di Indonesia, prevalensi hipertensi mencapai 34,1% dengan Kota Medan mencatat 65.904 penderita pada tahun 2022. Kepatuhan minum obat antihipertensi menjadi faktor krusial dalam manajemen hipertensi yang dapat menurunkan 20-25% risiko infark miokard, 30-40% kejadian stroke, dan lebih dari 50% gagal jantung kongestif. Dukungan keluarga berperan signifikan dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan melalui pemberian motivasi, bimbingan, informasi mengenai penyakit, serta dukungan finansial dan emosional. Di RS Santa Elisabeth Medan terdapat 442 pasien hipertensi rawat inap dengan rata-rata 44 pasien per bulan, namun belum ada data spesifik mengenai hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di RS Santa Elisabeth Medan tahun 2024 untuk memberikan informasi penting bagi pengembangan strategi peningkatan kepatuhan pengobatan dan outcome kesehatan pasien hipertensi. Metode penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan teknik purposive sampling. Populasi penelitian adalah 442 pasien hipertensi rawat inap, dengan sampel 40 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dukungan keluarga (12 pertanyaan) dan Morisky Medication Adherence Scales-8 dengan skala Likert. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif univariat dan uji Fisher Exact untuk analisis bivariat. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden mendapat dukungan keluarga baik sebesar 85,0%, namun tingkat kepatuhan minum obat rendah dengan 52,5% responden tidak patuh. Uji Fisher Exact menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat (p-value = 0,186). Kesimpulanpenelitian menyimpulkan bahwa kepatuhan minum obat lebih dipengaruhi faktor status ekonomi, kesibukan pekerjaan, pengetahuan pasien, aksesibilitas layanan kesehatan, dan motivasi intrinsik sehingga diperlukan intervensi komprehensif melalui edukasi berkelanjutan, konseling manajemen penyakit, dan strategi pengingat minum obat.
Copyrights © 2026