Transisi global menuju kendaraan listrik (Electric Vehicles/EVs) telah mendorong disrupsi struktural dalam industri otomotif, di mana persaingan semakin bergeser dari diferensiasi produk menuju inovasi model bisnis dan strategi penetapan harga. Di Indonesia, meskipun pasar EV didukung oleh populasi besar dan kebijakan pemerintah yang proaktif, tingkat penetrasi masih relatif rendah akibat tingginya harga pembelian awal dan kekhawatiran konsumen terhadap risiko baterai. Kondisi ini menciptakan tantangan strategis bagi pendatang baru seperti VinFast yang memasuki pasar tanpa keunggulan skala produksi maupun posisi merek yang mapan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara strategis masuknya VinFast ke pasar kendaraan listrik Indonesia dengan menelaah peran model Battery-as-a-Service (BaaS) sebagai instrumen penetapan harga strategis dalam mendukung pencapaian keunggulan biaya. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif berbasis data sekunder yang bersumber dari literatur akademik, laporan industri, kebijakan publik, dan publikasi perusahaan. Analisis dilakukan menggunakan kerangka SWOT untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman VinFast, serta Porter’s Five Forces untuk mengevaluasi intensitas persaingan industri EV di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa VinFast menggunakan strategi market entry yang berfokus pada rekayasa struktur harga dan model kepemilikan melalui BaaS sebagai strategic pricing tool, yang diperkuat oleh pendekatan ecosystem-led market entry melalui layanan taksi listrik. Namun, keberlanjutan strategi ini sangat bergantung pada kesiapan ekosistem, stabilitas regulasi, dan kemampuan perusahaan mengelola risiko finansial jangka panjang. Penelitian ini berkontribusi pada literatur strategi dengan mengaitkan cost leadership, inovasi model bisnis, dan analisis industri dalam konteks pasar EV di negara berkembang.
Copyrights © 2025