Pengembangan aplikasi pada perangkat wearable, khususnya yang berbasis Android Wear OS, menghadapi tantangan utama berupa keterbatasan sumber daya energi. Fitur pemantauan kesehatan yang berjalan secara real-time, seperti sensor detak jantung, diketahui mengonsumsi daya baterai secara signifikan. Pemilihan paradigma pemrograman, yakni antara Pemrograman Imperatif Pemrograman Reaktif, diduga memiliki dampak terhadap efisiensi energi dan kualitas kode yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis komparatif antara kedua paradigma tersebut guna mengetahui dampaknya terhadap konsumsi daya dan metrik kompleksitas perangkat lunak. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen kuantitatif dengan mengembangkan dua prototipe aplikasi identik pada perangkat Fossil Gen 5 Carlyle. Pengujian daya dilakukan menggunakan dumpsys batterystats dengan 30 sampel uji berdurasi 15 menit, sedangkan kompleksitas kode diukur menggunakan SonarQube. Hasil analisis menunjukkan bahwa paradigma Imperatif memiliki rata-rata konsumsi daya yang sedikit lebih efisien (34.63 mAh) dibandingkan paradigma Reaktif (37.20 mAh). Namun, hasil uji statistik t-test membuktikan bahwa perbedaan tersebut tidak signifikan (p-value = 0.142). Di sisi lain, paradigma Reaktif terbukti jauh lebih unggul dalam menyederhanakan struktur kode, ditunjukkan dengan nilai Cyclomatic Complexity sebesar 4 dibandingkan Imperatif yang bernilai 7. Penelitian ini menyimpulkan bahwa paradigma Reaktif direkomendasikan untuk pengembangan jangka panjang karena meningkatkan maintainability tanpa mengorbankan daya baterai secara drastis.
Copyrights © 2026