Kondisi kesehatan di lingkungan pesantren sering kali dihadapkan pada tantangan rendahnya praktik personal hygiene, yang berdampak langsung pada tingginya angka dermatitis. Fenomena ini mendorong dilaksanakannya sebuah inisiatif edukasi guna memberikan pemahaman yang lebih mendalam sekaligus mengubah kebiasaan santri. Melalui rangkaian kegiatan yang mencakup pemaparan materi serta demonstrasi konkret mengenai teknik mencuci tangan dan menggosok gigi, santri dibekali keterampilan praktis dalam menjaga kebersihan diri. Proses ini kemudian diakhiri dengan evaluasi perilaku yang menunjukkan bahwa 18,8% santri mengalami dermatitis dan beberapa aspek perilaku masih berada pada kategori buruk, seperti kedisiplinan dalam menjaga kebersihan kulit (37,5%), kebersihan pakaian (40%), dan kebersihan handuk (37,5%). Temuan ini mengindikasikan bahwa diperlukan pendampingan berkelanjutan serta pengawasan asrama yang lebih ketat untuk memastikan praktik kebersihan pribadi dapat terinternalisasi secara maksimal guna memutus rantai penularan dermatitis.
Copyrights © 2026