Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analysis of Drug Inventory Control Using the ABC Method of Critical Index in Islamic Hospital Ibnu Sina Padang in 2021 for Public Welfare Putri Widya Herman; Husna Yetti; Isniati Isniati
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 5, No 2 (2022): Budapest International Research and Critics Institute May
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i2.5644

Abstract

Hospitals have a very strategic role in an effort to accelerate the improvement of the health status of the Indonesian people. So, the service system must always be reviewed to anticipate competition. The level of efficiency in the use of funds for drug procurement depends on the ability to manage it. Selection of the right method can help achieve good and appropriate drug management. It is known that the Medicines Formulary of the Islamic Hospital of Ibnu Sina Padang has not been updated regularly, pharmacy installations have not implemented more in-depth inventory control methods, and are still experiencing drug shortages. The purpose of this study was to analyze the implementation of drug control using the ABC critical index analysis method at the Islamic Hospital Ibnu Sina Padang in 2021. The research method is quantitative in the form of operational research. The results of this study are group A ABC critical index analysis consists of 9 drug items (18.75%) with an investment value of 14.19% of the total investment value and the number of uses is 54.87% of the total drug use, group B consists of of 34 drug items (70.83%) with an investment value of 80.25% of the total investment value and the number of known uses is 44.87% of the total drug use, group C consists of 5 drug items (10.42%) with an investment value 5.56% of the total investment value and 0.26% of the total use of drugs. It is hoped that the results of this study can be used as input and consideration in managing drug supplies in hospitals. The results of this study are group A ABC critical index analysis consists of 9 drug items (18.75%) with an investment value of 14.19% of the total investment value and the number of uses is 54.87% of the total drug use, group B consists of of 34 drug items (70.83%) with an investment value of 80.25% of the total investment value and the number of known uses is 44.87% of the total drug use, group C consists of 5 drug items (10.42%) with an investment value 5.56% of the total investment value and 0.26% of the total use of drugs. It is hoped that the results of this study can be used as input and consideration in managing drug supplies in hospitals.
GAMBARAN PELAKSANAAN EDUKASI DAN PERILAKU PERSONAL HYGIENE SANTRI PONDOK PESANTREN SUMATERA THAWALIB PARABEK Windi Wiyarti; Elsa Luvia Harmen; Fitri Yunita Sari; Putri Widya Herman; Erlinengsih, Erlinengsih; Abdi Setia Putra; Mery Herliza
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 9 (2026): Februari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi kesehatan di lingkungan pesantren sering kali dihadapkan pada tantangan rendahnya praktik personal hygiene, yang berdampak langsung pada tingginya angka dermatitis. Fenomena ini mendorong dilaksanakannya sebuah inisiatif edukasi guna memberikan pemahaman yang lebih mendalam sekaligus mengubah kebiasaan santri. Melalui rangkaian kegiatan yang mencakup pemaparan materi serta demonstrasi konkret mengenai teknik mencuci tangan dan menggosok gigi, santri dibekali keterampilan praktis dalam menjaga kebersihan diri. Proses ini kemudian diakhiri dengan evaluasi perilaku yang menunjukkan bahwa 18,8% santri mengalami dermatitis dan beberapa aspek perilaku masih berada pada kategori buruk, seperti kedisiplinan dalam menjaga kebersihan kulit (37,5%), kebersihan pakaian (40%), dan kebersihan handuk (37,5%). Temuan ini mengindikasikan bahwa diperlukan pendampingan berkelanjutan serta pengawasan asrama yang lebih ketat untuk memastikan praktik kebersihan pribadi dapat terinternalisasi secara maksimal guna memutus rantai penularan dermatitis.
Hubungan Kepuasan Pasien terhadap Loyalitas di Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Payakumbuh : Studi Cross-Sectional Elsa Luvia Harmen; Fitri Yunita Sari; Putri Widya Herman; Syukra Alhamda
Indonesian Journal of Hospital Administration Vol 8 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Alma Ata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijhaa.2025.8(2).117-129

Abstract

Pelayanan kesehatan berkualitas merupakan faktor penting dalam meningkatkan kepuasan pasien. Jika pasien puas maka akan loyal terhadap rumah sakit. Di Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Payakumbuh dari survei awal menunjukkan jumlah kunjungan pasien rawat jalan mengalami trend fluktuatif, sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan tingkat kepuasan dan loyalitas pasien tahun 2025. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2025 dengan menggunakan desain penelitian kuantitatif cross-sectional. Populasi penelitian adalah 43.345 pasien,  besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus Krejcie dan Morgan sehingga sampel penelitian menjadi 400. Pengukuran kepuasan dan loyalitas menggunakan kuesioner dengan skala likert. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square dengan software SPSS. Hasil penelitian menunjukkan 55% pasien menyatakan puas dengan pelayanan yang diterima, sementara 54,8% menunjukkan loyalitas. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kepuasan dan loyalitas (p=0,0001) dengan  nilai confidence Interval 95% (1,435–3,206). Nilai Odds Ratio (OR) = 2,145 menunjukkan bahwa responden yang puas memiliki peluang 2,145 kali lebih besar untuk menjadi pelanggan yang loyal dibandingkan responden yang tidak puas, di mana pasien puas lebih cenderung loyal (63,2%) dibandingkan yang tidak puas (44,4%). Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa tingkat kepuasan dan loyalitas pasien secara umum cukup baik, namun masih terdapat 45% pasien yang tidak puas dan 45,2% yang tidak loyal. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kualitas layanan, terutama pada aspek waktu tunggu dan sarana prasarana.