Indonesia termasuk negara berkembang yang masih rentan terhadap penyakit zoonosis atau penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing. Beberapa Upaya telah dilakukan untuk menurunkan angka potensi terhadap penyakit tersebut, salah satunya yaitu dengan memanfaatkan senyawa aktif yang keberedaannya melimpah sebagai produk vegetasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan menganalisis aktivitas anticacing pada ekstrak dan fraksi daun kedondong (Spondias dulcis). Sampel cacing yang digunakan adalah Ascaridia galli, sedangkan sampel daun kedondong disiapkan melalui metode maserasi menggunakan pelarut methanol. Partisi cair-cair pada sampel menggunakan pelarut n-heksana, diklorometana, etil asetat, dan methanol. Kandungan zat aktif dianalisis untuk mengetahui peran metabolit sekunder terhadap agen anticacing. Uji aktivitas anthelmintik dilakukan terhadap cacing Ascaridia galli dengan variasi konsentrasi 5; 25; 50 mg/mL, serta kontrol positif (mebendazol 5 mg/mL) dan kontrol negatif (NaCl 0,9%), dengan pengamatan waktu paralisis dan kematian selama 24 jam. Hasil skrining menunjukkan ekstrak dan fraksi daun kedondong mengandung flavonoid, alkaloid, saponin, dan steroid. Uji aktivitas anthelmintik menunjukkan fraksi etil asetat pada konsentrasi 50 mg/mL memiliki waktu paralisis tercepat yaitu 9 jam. Aktivitas anticacing diduga dipengaruhi oleh kandungan metabolit sekunder tersebut yang bekerja melalui mekanisme peningkatan permeabilitas membran, gangguan sistem saraf pusat cacing, serta kerusakan lapisan mukopolisakarida. Hasil penelitian ini menunjukkan potensi daun kedondong sebagai bahan antelmintik alami.
Copyrights © 2026