Lembaga pendidikan Islam saat ini menghadapi ketegangan kritis antara mempertahankan nilai tradisional "kitab kuning" dengan tekanan disrupsi digital yang tidak terelakkan. Penelitian ini menganalisis transformasi kurikulum di madrasah dan pesantren, dengan menyoroti hambatan ideologis dan teknis yang muncul dalam masa transisi. Menggunakan pendekatan studi pustaka yang reflektif, temuan menunjukkan bahwa meskipun integrasi digital sangat mendesak bagi daya saing lulusan, banyak lembaga mengalami "kegagapan" institusional dan rendahnya literasi digital. Penelitian ini menyimpulkan bahwa jika pendidikan Islam tidak segera beralih dari metode konvensional yang statis menuju strategi adaptif-inklusif, terdapat risiko besar lembaga ini akan tergilas oleh sistem pendidikan sekuler yang lebih melek teknologi.
Copyrights © 2026