Pengamanan perbatasan RI - RDTL menghadapi tantangan aktivitas ilegal seperti penyelundupan, perdagangan manusia, dan kepemilikan senjata yang mengancam stabilitas dan kedaulatan negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengamanan perbatasan yang dilaksanakan oleh TNI AD dalam mengatasi aktivitas ilegal, mengidentifikasi peluang dan kendala implementasi teknologi, serta merumuskan optimalisasi strategi berbasis teknologi. Metode penelitian yang digunakan adalah Kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta validasi menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengamanan TNI AD telah mengintegrasikan pendekatan militer, intelijen, dan sosial melalui patroli rutin, operasi gabungan, serta pembinaan masyarakat. Namun, tantangan seperti keterbatasan anggaran, infrastruktur komunikasi, dan interoperabilitas antarinstansi masih menjadi kendala utama. Penelitian ini menghasilkan optimalisasi Strategi Pengamanan Adaptif Berbasis Teknologi (SPABT) sebagai temuan kebaruan, yang terdiri atas empat elemen : Digital Intelligence System, Collaborative Command Network, Smart Border Infrastructure, dan Community - Based Security. Optimalisasi ini menegaskan sinergi antara teori Lykke (Ends, Ways, Means), Human Security, dan konsep Hankamrata, menuju sistem pertahanan adaptif yang kolaboratif dan modern. Kesimpulannya, optimalisasi strategi pengamanan berbasis teknologi menjadi kunci dalam menghadapi ancaman lintas batas. Optimalisasi SPABT berpotensi memperkuat efektivitas TNI AD dalam menjaga kedaulatan, stabilitas wilayah, dan ketahanan nasional melalui integrasi manusia, teknologi, dan kelembagaan.
Copyrights © 2026