Pendahuluan : Rupture perineum adalah perlukaan perineum yang terjadi saat bayi lahir. Berdasarkan fokus asuhan persalinan normal saat ini yang menganut paradigma pencegahan, maka segala bentuk perlukaan jalan lahir sebaiknya dicegah. Data persalinan di TPMB Listiani Dwi Rahayu menunjukkan peningkatan kejadian rupture perineum yaitu 16,88% tahun 2024 menjadi 41% tahun 2025. Salah satu faktor yang berpengaruh yaitu berat bayi yang dilahirkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan berat bayi lahir dengan kejadian rupture perineum pada persalinan normal. Metode : menggunakan metode analitik dengan desain Cross sectional dan menggunakan data sekunder. Populasi penelitian adalah 77 ibu bersalin multigravida tahun 2025 yang pengambilan sampelnya dilakukan secara probability sampling dan tipe yang digunakan simple random sampling dan didapatkan 64 responden. Kemudian dibuat tabel frekuensi, tabulasi silang dan diuji menggunakan Pearson Chi-Square dengan nilai kemaknaan α = 0,05. H1 diterima apabila p < α. Hasil : didapatkan ibu multigravida yang melahirkan bayi dengan berat 2500-4000 gram dan > 4000 gram mayoritas mengalami rupture perineum 71,43%. Sebaliknya ibu multigravida yang melahirkan bayi dengan berat < 2500 gram mayoritas tidak mengalami rupture perineum 59,1%. Dari hasil analisis data menggunakan uji Pearson Chi Square didapatkan nilai p (0,017) < α (0,05) maka Ho ditolak. Diskusi : bahwa terdapat hubungan berat bayi lahir dengan kejadian rupture perineum pada persalinan normal. Dengan demikian diharapkan petugas kesehatan mampu mendeteksi dini faktor resiko yang menyebabkan rupture perineum dan senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki khususnya dalam hal mencegah rupture perineum dengan cara mengikuti pelatihan APN, seminar kesehatan, dan pelatihan kelas ibu hamil.
Copyrights © 2025