Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman interaksi sosial siswa tunagrahita ringan di sekolah inklusif SMP Negeri 32 Semarang. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), penelitian melibatkan lima siswa berusia 13–17 tahun. Data dikumpul melalui wawancara semi-terstruktur mendalam dan observasi non-partisipan, kemudian dianalisis melalui langkah membaca ulang transkrip, komentar eksploratif, tema emergen, dan tema utama. Hasil menunjukkan lima tema utama: hambatan interaksi (takut salah bicara, menarik diri), penyesuaian diri (mengikuti aturan, diam saat marah), peniruan perilaku positif (meniru guru dan teman), dukungan sosial (ajakan bermain, perhatian guru), serta penguatan emosional (rasa aman dan diterima). Temuan tidak terduga adalah kemampuan siswa memberikan kontribusi sosial aktif. Penelitian ini mengisi celah literatur dengan perspektif emik siswa di konteks inklusi reguler tingkat SMP, menegaskan pentingnya dukungan lingkungan untuk membangun interaksi bermakna.
Copyrights © 2026