Musik dalam tradisi kepercayaan Batak Toba tidak sekadar berfungsi sebagai estetika hiburan, melainkan sebagai teknologi spiritual yang memetakan tatanan alam semesta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis simbolisme kosmologis dalam ensambel Gondang Sapotang yang digunakan pada ritual Ulaon Gondang Saborginoleh komunitas Parbaringin Isumbaon di Desa Lobu Rappa, Kabupaten Asahan. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnomusikologi, penelitian ini membedah struktur organologi dan pola musikal berdasarkan konsep "Trilogi Banua" (Tiga Dunia). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gondang Sapotang berfungsi sebagai "kosmogram bunyi" yang merepresentasikan struktur mikrokosmos dan makrokosmos. Secara spesifik, bunyi Ogung yang siklis merepresentasikan Banua Toru (Dunia Bawah) sebagai fondasi bumi, ritme Tagading merepresentasikan dinamika Banua Tonga (Dunia Tengah/Manusia), dan melodi Sarunemerepresentasikan suara Banua Ginjang (Dunia Atas/Ilahi). Selain itu, ditemukan adanya eskalasi tempo (accelerando) dalam repertoar yang menyimbolkan pendakian spiritual untuk mencapai transendensi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bagi penganut Parbaringin, memainkan musik adalah upaya merawat keseimbangan kosmis dan harmonisasi hubungan antara manusia, alam, dan pencipta.
Copyrights © 2026