Setiap siswa memiliki proses kognitif yang berbeda dalam menyelesaikan masalah matematis. Perbedaan tersebut dapat terlihat secara nyata ketika siswa dihadapkan pada permasalahan matematis yang menuntut pemahaman konsep yang mendalam, kemampuan memilih dan menerapkan strategi penyelesaian yang tepat, serta ketekunan dalam melalui setiap tahapan pemecahan masalah. Perbedaan proses berpikir ini menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis tidak hanya ditentukan oleh penguasaan materi, tetapi juga oleh karakter dan daya juang siswa dalam menghadapi kesulitan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus yang bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa berdasarkan Teori APOS yang ditinjau dari tipe Adversity Quotient (AQ). Subjek penelitian dikelompokkan ke dalam tiga tipe AQ, yaitu climber, camper, dan quitter. Analisis data dilakukan melalui teknik pengkodean menggunakan perangkat lunak NVivo guna mengidentifikasi dan mengkaji tahapan kognitif siswa secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan tipe climber memiliki kemampuan pemecahan masalah matematis yang tinggi, yang ditandai dengan kemampuannya mencapai tahap skema dalam Teori APOS. Sebaliknya, siswa dengan tipe camper dan quitter menunjukkan kemampuan pemecahan masalah matematis yang relatif rendah karena hanya mampu berada pada tahap aksi. Selain itu, siswa dengan tipe quitter cenderung memiliki motivasi belajar yang rendah dan mudah menyerah ketika menghadapi permasalahan matematis yang menantang.
Copyrights © 2026