Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) Perbedaan pengaruh model latihan shuttle run dan dogging run terhadap peningkatan kemampuan menggiring bola pada permainan sepak bola. (2) Perbedaan pengaruh peningkatan kemampuan menggiring bola bagi anak yang memiliki koordinasi mata-kaki tinggi dan rendah dalam permainan sepak bola. (3) Pengaruh interaksi antara model latihan dengan koordinasi mata-kaki terhadap kemampuan menggiring bola dalam perminan sepak bola. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan faktorial 2 X 2. Populasi penelitian adalah siswa Sekolah Sepak Bola Lombok Timur yang berjumlah 52 anak. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, sampel yang diambil sebanyak 40 siswa, terdiri dari 20 siswa yang memiliki koordinasi mata-kaki tinggi dan 20 siswa yang memiliki koordinasi mata-kaki rendah. Teknik pengumpulan data dengan tes dan pengukuran. Pengambilan data kemampuan menggiring bola pada permainan sepakbola dengan tes menggiring bola zig-zag. Pengambilan data koordinasi matakaki dilakukan dengan soccer wall volley test. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis varians (ANAVA) dan uji rentang Newman Keuls, pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa model latihan shuttle run memiliki peningkatan yang berbeda dengan model latihan dodging run. Hal ini dibuktikan dari nilai Fhitung = 4.532 > Ftabel = 4.11. Dengan demikian hipotesis nol (H0) ditolak. Yang berarti bahwa model latihan shuttle run memiliki peningkatan yang berbeda dengan model latihan dodging run dapat diterima kebenarannya. (2) Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki koordinasi mata-kaki tinggi memiliki peningkatan kemampuan menggiring bola pada permainan sepakbola yang berbeda dengan siswa yang memiliki kemampuan dasar rendah. Hal ini dibuktikan dari nilai Fhitung = 5.973 > Ftabel = 4.11. Dengan demikian hipotesis nol (H0) ditolak. Yang berarti bahwa siswa yang memiliki koordinasi mata-kaki tinggi memiliki peningkatan kemampuan menggiring bola pada permainan sepakbola yang berbeda dengan siswa yang memiliki koordinasi mata-kaki rendah dapat diterima kebenarannya. (3) Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara latihan dribbling pada permainan sepakbola dan tingkat koordinasi mata-kaki sangat bermakna. Karena Fhitung = 14.548 > Ftabel = 4.11. Dengan demikian hipotesis nol ditolak. Yang berarti terdapat interaksi yang signifikan antara model latihan untuk meningkatkan kemampuan menggiring bola pada permainan sepakbola dan tingkat koordinasi mata-kaki.
Copyrights © 2026