Kurikulum Merdeka menempatkan Profil Pelajar Pancasila sebagai capaian utama pendidikan nasional, namun kajian tentang penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Aqidah Akhlak—yang memiliki muatan karakter dan afektif sangat kuat—masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan praktik pembelajaran berdiferensiasi serta menganalisis kontribusinya terhadap pembentukan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila di MAN Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal terpancang, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan selama 12 pertemuan, dan analisis dokumen terhadap RPP, modul ajar, serta hasil produk siswa pada periode Mei–Agustus 2025, dengan subjek dua guru Aqidah Akhlak, 18 siswa, serta pimpinan madrasah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi yang berpijak pada asesmen diagnostik holistik, diferensiasi konten-proses-produk multimodality, integrasi teknologi (Smart TV, blog, ChatGPT), serta peran guru sebagai fasilitator yang humanis berhasil mewujudkan keenam dimensi Profil Pelajar Pancasila secara simultan dan terintegrasi: beriman dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, kreatif, serta bernalar kritis. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan motivasi dan prestasi belajar, tetapi juga menjadi wahana strategis pembentukan karakter religius-nasionalis yang harmonis antara nilai Islam, teori pendidikan modern, dan Kurikulum Merdeka, sehingga model ini memiliki potensi replikasi tinggi di madrasah lain.
Copyrights © 2026