Surat al-Naṣr menempati posisi penting dalam sejarah kenabian karena kerap dipandang sebagai wahyu terakhir yang menandai penyempurnaan risalah Nabi Muhammad. Penelitian ini menganalisis penafsiran al-Ṭabarī atas surat tersebut dengan menyoroti tiga aspek utama: makna nashr (pertolongan), al-fatḥ (pembukaan/kemenangan), dan keterkaitannya dengan tanda berakhirnya misi kenabian. Menggunakan metode kualitatif-deskriptif berbasis studi kepustakaan, penelitian ini menjadikan Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān sebagai sumber primer dan melengkapinya dengan literatur tafsir klasik serta modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Ṭabarī memaknai “nashr Allāh” sebagai pertolongan Ilahi kepada Nabi dalam menghadapi Quraisy, sedangkan “al-fatḥ” secara spesifik dikaitkan dengan Fath Makkah. Adapun frasa “yadkhulūna fī dīnillāh afwājan” dipahami sebagai masuknya kabilah-kabilah Arab ke dalam Islam secara kolektif sebagai dampak langsung dari kemenangan tersebut. Melalui riwayat Ibn ‘Abbās dan ‘Āʾishah, al-Ṭabarī juga menegaskan bahwa surat ini merupakan na‘ā ilayhi nafsahu, yakni pemberitahuan Ilahi tentang kedekatan ajal Nabi. Temuan utama penelitian ini adalah bahwa kemenangan dalam perspektif al-Ṭabarī bukanlah puncak politik, melainkan simbol spiritual bagi penyempurnaan dakwah dan awal fase transendensi kenabian. Perintah tasbīḥ dan istighfār pada ayat terakhir dipahami sebagai respons etis-teologis terhadap keberhasilan, yang menegaskan bahwa kemenangan tertinggi adalah kerendahan hati seorang hamba di hadapan Allah.
Copyrights © 2022