Kekerasan dan konflik berkepanjangan di Papua mencerminkan persoalan struktural yang memerlukan pendekatan teologis yang lebih kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pendekatan hermeneutika pembebasan Farid Esack dalam membaca QS. An-Nisāʾ [4]:75 sebagai dasar pembelaan kaum tertindas, dalam konteks masyarakat Papua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, menganalisis karya-karya utama Farid Esack serta referensi-referensi sekunder yang terkait dengan tafsir, hermeneutika, dan persoalan sosial Papua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan hermeneutika Esack—yang memadukan prosedur regresif-progresif, gerakan ganda, dan enam kunci hermeneutika (taqwā, tauḥīd, an-nās, al-mustaḍ'afūn, al-'adl, qisṭ, dan jihād)—mampu menghadirkan pembacaan Al-Qur'an yang etis, praksis, dan imparsial. Kesimpulannya, pendekatan ini tidak hanya mengontekstualisasikan pesan moral Al-Qur'an, tetapi juga membuka jalan bagi agenda rekonsiliasi yang adil di Papua. Penelitian ini merekomendasikan perluasan penerapan hermeneutika Esack ke isu-isu sosial lain di Indonesia untuk memperkaya wacana interpretasi kontekstual dan praksis Islam yang membebaskan.
Copyrights © 2026