Pemberitaan tentang demonstrasi yang ricuh di Kota Solo oleh tiga media daring nasional—Kompas, Tempo, dan Tirto. id—menunjukkan perbedaan yang jelas dalam cara mereka membingkai dan membangun realitas sosial serta politik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis framing, terungkap bahwa Kompas cenderung menggambarkan demonstrasi sebagai fenomena sosial yang muncul akibat kurangnya komunikasi dan solidaritas dari masyarakat. Di sisi lain, Tirto menyoroti hubungan sebab-akibat antara kebijakan pemerintah, tindakan aparat, dan respons publik dengan pendekatan kritis yang berlandaskan data. Sementara itu, Tempo menghubungkan kejadian setempat dengan konteks nasional melalui gambar yang menampilkan kerusakan dan kekerasan. Perbedaan dalam cara pembingkaian ini berdampak pada bagaimana demonstran diwakili, legitimasi dari aksi protes, dan bagaimana publik melihat peran aparat keamanan dan negara. Hasil penelitian ini menggarisbawahi bahwa media digital tidak hanya berperan dalam menyampaikan berita, tetapi juga menjadi pemain penting dalam membentuk makna, opini publik, serta dinamika demokrasi, khususnya dalam situasi kebebasan berekspresi dan komunikasi krisis di Indonesia.
Copyrights © 2026