Work life balance (WLB) menjadi tantangan utama di era kerja fleksibel, terutama ketika batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin kabur. Penelitian ini bertujuan menggali pengalaman karyawan dalam menyeimbangkan peran kerja–keluarga serta implikasinya terhadap kinerja, dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan lima karyawan dari berbagai generasi di sebuah perusahaan jasa keuangan di Indonesia yang menerapkan sistem kerja hybrid, dengan jumlah partisipan ditentukan hingga mencapai titik jenuh data (data saturation). Analisis tematik digunakan untuk mengidentifikasi pola pengalaman yang berulang. Hasil menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja memberikan manfaat signifikan bagi karyawan dengan tanggungan keluarga, meskipun rentan terhadap konflik peran ketika dukungan domestik dan organisasi terbatas. Perbedaan generasional juga muncul: generasi Z lebih tegas menetapkan batas kerja–pribadi, sedangkan generasi Milenial lebih rentan terhadap burnout akibat tumpang tindih peran. Dukungan supervisor, kebijakan hybrid berbasis tugas, dan pelatihan manajemen waktu terbukti menjadi faktor kunci dalam menjaga produktivitas dan keterlibatan karyawan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori WLB dengan menyoroti dimensi tahap kehidupan (life-stage) dan konsistensi implementasi kebijakan (implementation fidelity), serta secara praktis memberikan rekomendasi bagi organisasi untuk merancang kebijakan MSDM yang adaptif, suportif, dan berkelanjutan di konteks negara berkembang
Copyrights © 2025