Kalilah wa Dimnah merupakan sebuah manuskrip klasik yang tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai artefak kebudayaan yang merepresentasikan nilai-nilai sosial dan moral pada masanya. Namun, pemaknaan teks tidaklah statis; ia dapat beradaptasi seiring pergeseran konteks budaya pembaca. Penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk memahami bagaimana adaptasi pemaknaan teks dalam naskah ini dapat ditelusuri melalui sudut pandang unsur-unsur kebudayaan yang termuat di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana adaptasi pemaknaan teks Kalilah wa Dimnah dipengaruhi oleh unsur-unsur kebudayaan. Fokus penelitian adalah analisis simbol budaya dalam teks dan bagaimana simbol tersebut membentuk makna denotatif maupun konotatif, yang pada akhirnya menghasilkan ‘sense of culture’ yang dapat berubah sesuai dengan sudut pandang pembaca. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan semiotika Roland Barthes, penelitian ini menganalisis teks ke tingkat signifikasi orde pertama (denotasi) dan orde kedua (konotasi serta mitos). Hasil analisis menunjukkan bahwa unsur-unsur kebudayaan seperti struktur sosial, nilai moral, dan hubungan kekuasaan yang digambarkan dalam fabel-fabel Kalilah wa Dimnah tidak hanya dipahami pada makna literalnya. Melalui pembacaan semiotik, makna-makna tersebut beradaptasi, mengungkapkan kritik sosial yang halus, negosiasi nilai, dan pesan moral yang tetap relevan dengan konteks kekinian, membuktikan dinamika pemaknaan teks sastra klasik ketika dilihat dari lensa kebudayaan.Kata Kunci – Kalilah wa Dimnah;Manuskrip Jawi-Latin;Semiotik Barthes; Unsur Kebudayaan
Copyrights © 2025