Pendidikan kedokteran merupakan lingkungan belajar dengan tuntutan akademik dan emosional yang tinggi, sehingga resiliensi akademik menjadi kemampuan penting bagi mahasiswa untuk bertahan dan beradaptasi terhadap tekanan serta kegagalan akademik. Namun, hubungan antara resiliensi akademik dan prestasi akademik belum menunjukkan pola yang konsisten, terutama pada konteks pendidikan kedokteran di wilayah dengan tantangan sosio-kultural yang khas seperti Papua. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara resiliensi akademik dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa sarjana kedokteran tahap preklinik di Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (FK Uncen). Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif potong lintang dengan melibatkan 294 mahasiswa preklinik yang dipilih melalui total sampling. Resiliensi akademik diukur menggunakan Academic Resilience Scale-30 (ARS-30), sedangkan IPK diperoleh dari data akademik mahasiswa. Analisis deskriptif dan uji korelasi Pearson digunakan untuk mengolah data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa median skor resiliensi akademik berada pada kategori rendah hingga sedang, dengan sebaran skor yang menandakan heterogenitas kemampuan adaptasi mahasiswa. Rerata IPK responden menunjukkan variasi capaian akademik yang luas. Analisis korelasi menunjukkan hubungan negatif yang lemah namun bermakna secara statistik antara resiliensi akademik dan IPK. Hasil ini menunjukkan bahwa resiliensi akademik tidak secara langsung menentukan prestasi akademik mahasiswa, tetapi lebih berperan sebagai kemampuan psikologis untuk bertahan dan beradaptasi menghadapi tekanan akademik. Penelitian ini juga menegaskan bahwa resiliensi akademik sebaiknya dipahami sebagai kapasitas adaptif, bukan ukuran keberhasilan akademik semata, serta menunjukkan pentingnya intervensi pendidikan yang menekankan dukungan sosial, pencegahan burnout, dan pembinaan akademik yang sesuai dengan konteks mahasiswa kedokteran.
Copyrights © 2026