Hipertermi pada bayi merupakan kondisi klinis yang berisiko menimbulkan gangguan keseimbangan cairan, peningkatan kebutuhan metabolik, serta ketidakstabilan sistem kardiovaskular dan respirasi. Bayi memiliki mekanisme termoregulasi yang belum matang sehingga rentan mengalami fluktuasi suhu tubuh. Intervensi nonfarmakologis seperti terapi kompres hangat menjadi bagian dari praktik keperawatan berbasis bukti dalam membantu menurunkan suhu tubuh secara fisiologis melalui mekanisme vasodilatasi perifer dan peningkatan evaporasi panas. Namun, efektivitasnya terhadap stabilitas termoregulasi dan respons fisiologis bayi masih memerlukan pembuktian empiris di setting klinis lokal. Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest control group. Sampel dipilih menggunakan teknik consecutive sampling sesuai kriteria inklusi. Kelompok intervensi diberikan kompres hangat dengan suhu 37–40°C selama 15–20 menit, sedangkan kelompok kontrol memperoleh perawatan standar ruangan. Variabel yang diukur meliputi suhu tubuh aksila, denyut nadi, frekuensi napas, dan durasi penurunan suhu hingga mencapai rentang normal. Analisis data menggunakan uji paired t-test dan independent t-test dengan tingkat signifikansi p<0,05. Terdapat penurunan suhu tubuh yang signifikan pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05). Stabilitas termoregulasi lebih cepat tercapai pada kelompok yang diberikan kompres hangat, disertai perbaikan respons fisiologis berupa penurunan denyut nadi dan frekuensi napas menuju rentang normal. Rerata durasi penurunan suhu pada kelompok intervensi lebih singkat dibandingkan kelompok kontrol. Terapi kompres hangat berpengaruh signifikan terhadap stabilitas termoregulasi, respons fisiologis, dan percepatan durasi penurunan suhu pada bayi hipertermi. Intervensi ini direkomendasikan sebagai bagian dari praktik keperawatan berbasis bukti dalam manajemen hipertermi bayi di ruang perawatan anak.
Copyrights © 2026