Visual-spatial intelligence is an important component in geometry learning, yet most junior high school students experience significant difficulties in visualizing 3D objects and performing geometric transformations. This study aims to analyze students' visual-spatial intelligence in transformation geometry in terms of self-awareness. The research method uses a descriptive qualitative approach. The research subjects were 6 Grade 9 students from SMP Islam Ibnu Hanbal Tasikmalaya selected purposively based on self-awareness levels (2 high, 2 medium, 2 low). Data were collected through visual-spatial intelligence tests, self-awareness questionnaires, and semi-structured interviews. Analysis used the Miles and Huberman model with technique triangulation. The results showed that the level of self-awareness affects students' visual-spatial intelligence. Students with high self-awareness were able to visualize 3D objects accurately, perform mental rotation systematically, and reflect on spatial reasoning processes logically and contextually. They also demonstrated strong spatial orientation and good decision-making in geometric transformations. Meanwhile, students with medium self-awareness could solve problems procedurally but lacked depth in spatial reasoning and reflection. Students with low self-awareness faced difficulties in visualizing objects, performing mental rotations, and reflecting on their spatial thought processes, resulting in outcomes that were often illogical or contextually inappropriate. ABSTRAK Kecerdasan visual spasial merupakan komponen penting dalam pembelajaran geometri, namun mayoritas siswa SMP mengalami kesulitan signifikan dalam memvisualisasikan objek 3D dan melakukan transformasi geometri. Penelitian ini bertujuan menganalisis kecerdasan visual spasial peserta didik pada materi transformasi geometri ditinjau dari self-awareness. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian adalah 6 siswa kelas IX SMP Islam Ibnu Hanbal Tasikmalaya yang dipilih secara purposif berdasarkan tingkat self-awareness (2 tinggi, 2 sedang, 2 rendah). Data dikumpulkan melalui tes kecerdasan visual spasial, angket self-awareness, dan wawancara semiterstruktur. Analisis menggunakan model Miles dan Huberman dengan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan tingkat self-awareness memengaruhi kecerdasan visual spasial siswa. Siswa dengan self-awareness tinggi mampu memvisualisasikan objek 3D secara akurat, melakukan rotasi mental secara sistematis, dan merefleksikan proses penalaran spasial secara logis dan kontekstual. Siswa dengan self-awareness tinggi juga mendemonstrasikan orientasi spasial yang kuat dan pengambilan keputusan yang baik dalam transformasi geometri. Sementara itu, siswa dengan self-awareness sedang dapat menyelesaikan masalah secara prosedural, tetapi kurang mendalam dalam penalaran spasial dan refleksi. Sedangkan siswa dengan self-awareness rendah menghadapi kesulitan dalam memvisualisasikan objek, melakukan rotasi mental, dan merefleksikan proses berpikir spasial, serta menghasilkan hasil yang sering kali tidak logis atau tidak sesuai konteks.
Copyrights © 2026