Kemampuan sains anak usia dini di PAUD Kasih Ibu Kota Sawahlunto masih rendah, ditandai dengan kurangnya keterampilan mengamati, mengekspresikan rasa ingin tahu, dan menceritakan hasil pengamatan. Pembelajaran sains yang dilaksanakan cenderung bersifat verbal dan kurang memberikan pengalaman langsung kepada anak. Penelitian ini bertujuan untuk “meningkatkan kemampuan sains anak usia dini melalui kegiatan pembuatan tempe di PAUD Kasih Ibu Kota Sawahlunto”. Penelitian menggunakan desain “Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis & McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah anak kelompok B yang berjumlah 15 orang. Data dikumpulkan melalui observasi, catatan anekdot, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi kemampuan sains anak yang dikembangkan berdasarkan indikator Permendikbud No. 137 Tahun 2014”. Analisis data menggunakan teknik deskriptif kuantitatif dengan menghitung persentase ketercapaian indikator. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan sains anak dari kondisi awal hingga siklus II. Pada kondisi awal, 70% anak berada pada kategori belum berkembang. Pada siklus I, terjadi peningkatan menjadi 60% anak mulai berkembang dan 13% berkembang sesuai harapan. Pada siklus II, 80% anak berkembang sesuai harapan dan 20% berkembang sangat baik. Kegiatan pembuatan tempe memberikan pengalaman langsung yang memungkinkan anak mengamati, bertanya, dan memahami proses perubahan bahan secara konkret. Pembelajaran sains melalui kegiatan pembuatan tempe terbukti efektif meningkatkan kemampuan sains anak usia dini, khususnya dalam kemampuan mengamati, mengekspresikan rasa ingin tahu, dan mengomunikasikan hasil pengamatan. Implikasi penelitian ini adalah pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman langsung dan pemanfaatan kegiatan kehidupan sehari-hari sebagai media pembelajaran sains di PAUD.
Copyrights © 2026