Kematian dalam masyarakat Toraja tidak hanya dipahami sebagai peristiwa biologis, tetapi sebagai pengalaman budaya yang diungkapkan dan dimaknai melalui bahasa. Artikel ini bertujuan mengkaji bahasa Toraja tentang kematian sebagai teks budaya dengan menggunakan pendekatan hermeneutika bahasa yang dipadukan dengan perspektif teologi kontekstual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-interpretatif melalui studi pustaka dan analisis teks budaya terhadap istilah, ungkapan, serta narasi kematian dalam bahasa Toraja. Hasil kajian menunjukkan bahwa bahasa Toraja (khususnya dalam Aluk To Dolo) memaknai kematian sebagai proses yang berlangsung secara bertahap, mempertahankan orang yang telah meninggal sebagai subjek sosial yang tetap berelasi dengan komunitas, serta membingkai kematian melalui metafora perjalanan yang kaya makna simbolik. Pembacaan hermeneutik memperlihatkan bahwa bahasa kematian Toraja membentuk pemahaman yang relasional, komunal, dan dinamis. Implikasi teologi kontekstual dari kajian ini menegaskan bahwa bahasa budaya dapat menjadi ruang refleksi iman yang membumi dan dialogis. Dengan demikian, artikel ini memberikan kontribusi bagi kajian bahasa dan sastra, khususnya dalam memahami narasi kematian sebagai teks budaya, sekaligus memperkaya pengembangan teologi kontekstual di Indonesia.
Copyrights © 2025