Pendahuluan: Rendahnya pengetahuan gizi dan kebiasaan konsumsi serat menyebabkan banyak remaja mengalami ketidakseimbangan gizi yang tercermin dari nilai IMT. Asupan serat yang cukup dapat membantu menjaga berat badan ideal dan mencegah gangguan metabolik. Dalam pandangan Islam, menjaga keseimbangan gizi melalui konsumsi makanan berserat termasuk penerapan prinsip ḥifẓ al-nafs melalui konsumsi makanan halalan thayyiban. Metodologi : Penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dilakukan pada 50 responden siswa kelas X berusia 15 – 18 tahun di SMKN 39 Jakarta. Data diperoleh melalui kuesioner SQ-FFQ dan pengukuran antropometri untuk menghitung IMT. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square (χ²) untuk mengetahui hubungan antara pola asupan serat dan status gizi berdasarkan IMT. Hasil : Rata-rata asupan serat sebesar 16,47 g/hari dengan 39 responden (78%) kategori kurang dan 11 responden (22%) kategori cukup. Rata-rata IMT 19,68 kg/m² dengan 23 responden (46%) underweight, 20 (40%) normal, dan 7 (14%) overweight. Uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan serat dan status gizi berdasarkan IMT (p = 0,894). Sebagian besar responden memiliki pengetahuan tinggi tentang serat (86%). Simpulan : Tidak terdapat hubungan signifikan antara pola asupan serat dan status gizi berdasarkan IMT, namun peningkatan konsumsi serat penting untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan gizi. Perspektif Islam menekankan pentingnya menjaga kesehatan melalui pola makan seimbang dan konsumsi makanan halalan thayyiban.
Copyrights © 2026