Tarekat Naqsybandi adalah tradisi sufi yang berkembang pesat di Indonesia, menekankan pemurnian spiritual, disiplin diri, dan kedekatan dengan Allah melalui bimbingan seorang mursyid. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi spiritual masyarakat di sekitar Masjid Baitul Huda di Tamansari, Carangrejo, Sampung, Ponorogo, penerapan praktik-praktik Naqsybandi di masjid tersebut, dan dampaknya terhadap masyarakat setempat. Dengan menggunakan desain penelitian lapangan kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa praktik-praktik Naqsybandi telah mengubah spiritualitas masyarakat dari orientasi ritualistik menjadi pengalaman keagamaan yang lebih mendalam, lebih bermakna, dan lebih bermakna. Melalui zikir, wirid, dan disiplin spiritual yang terarah, para peserta mengalami peningkatan yang signifikan dalam karakter, kedamaian batin, dan kesadaran sosial. Lebih lanjut, tarekat ini memperkuat hubungan masyarakat dengan Tuhan dan kohesi sosialnya, mempromosikan nilai-nilai toleransi, inklusivitas, dan harmoni, yang pada akhirnya membentuk masyarakat yang lebih etis, damai, dan sadar spiritual.
Copyrights © 2025