Pembelajaran elektrokimia di tingkat SMA sering dianggap sulit dan membosankan karena karakteristik materi yang abstrak, yang berdampak pada rendahnya motivasi serta kemandirian belajar (Self-Regulated Learning/SRL) siswa. Tantangan ini semakin kompleks di era digital, di mana siswa cenderung pasif dan bergantung pada jawaban instan dari kecerdasan buatan. Meskipun pendekatan Science, Technology, Society, and Environment (STSE) diketahui mampu meningkatkan relevansi pembelajaran, implementasinya di kelas masih sangat terbatas karena kurangnya media pendukung. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan pengembangan e-Chemistry Magazine berbasis STSE yang berorientasi SRL untuk mengatasi permasalahan tersebut. Menggunakan metode survei eksploratif kualitatif, data dikumpulkan dari guru kimia di Yogyakarta dan dianalisis dengan model Miles dan Huberman. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa selain kesulitan visualisasi konsep mikroskopis, terdapat kesenjangan antara pengetahuan guru tentang isu STSE dan praktik pengajarannya. Responden secara mutlak membutuhkan media yang mengintegrasikan panduan praktikum mandiri, visualisasi interaktif, dan konten teknologi nyata. Disimpulkan bahwa pengembangan e-Chemistry Magazine adalah langkah strategis yang valid untuk menjembatani pemahaman konsep, melatih literasi sains, serta membangun kemandirian siswa dalam menghadapi tantangan belajar masa kini.
Copyrights © 2026