Perkembangan teknologi digital telah membawa transformasi signifikan dalam praktik pendidikan Islam, khususnya di kalangan generasi muda. Artikel ini membahas profil, latar belakang, dan model edukasi Islam yang dikembangkan oleh tiga konten kreator Muslim Indonesia, yaitu Hanan Attaki, Gus Iqdam, dan Kadam Sidik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis konten digital melalui platform YouTube, Instagram, dan TikTok. Hanan Attaki menonjol dengan model edutainment pedagogy, yang menggabungkan narasi, visual sinematik, dan bahasa populer untuk meningkatkan keterlibatan audiens muda dalam pembelajaran Islam. Gus Iqdam mengimplementasikan pendekatan affective learning, memadukan humor, cerita keseharian, dan bahasa santai untuk menciptakan kedekatan emosional serta internalisasi nilai-nilai Islam. Sementara Kadam Sidik menggunakan pendekatan situated learning dengan konten reflektif yang menekankan pengalaman psikologis dan sosial audiens sebagai titik masuk dalam pemahaman ajaran Islam. Studi ini menunjukkan bahwa konten kreator dapat berperan sebagai educational facilitator di ruang digital, menjembatani teori keislaman klasik dengan konteks hidup generasi digital. Model pembelajaran yang adaptif dan partisipatif ini berpotensi memperluas akses pendidikan Islam dan meningkatkan relevansi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Copyrights © 2026