Kayu laminasi atau dikenal sebagai glulam (Glued-laminated timber) pertama kali digunakan di Eropa pada konstruksi auditorium di Basel, Switzerland tahun 1893. Balok laminasi terbuatdari dua atau lebih kayu gergajian yang direkat dengan arah serat sejajar satu dengan yang lain, berbentuk lurus atau lengkung tergantung peruntukannya (Moody et al. 1999). Serrano (2003) menyatakan bahwa pada dasarnya balok laminasi adalah produk yang dihasilkan dengan menyusun sejumlah papan ataulamina diatas satu dengan yang lainnya dan merekatnya sehigga membentuk penampang balok yang diinginkan. Sifat fisik dan mekanik kayu menjadi faktor kunci dalam desain konstruksi kayu. Fokus Penelitian ini pada pengujian kuat lentur kayu dan klasifikasi berdasarkan SNI 7973: 2013 Hasilnya menunjukkan bahwa kuat lentur baik asli maupun laminasi. Setelah melakukan penelitian diperoleh kuat lentur balok kayu asli sebesar 14.758 MPa, balok laminasi silang sebesar 16,06 MPa dan balok laminasi lurus sebesar 16,61 Mpa, penurunan rata-rata sebesar 28,6 Mpa Studi ini memberikan wawasan tentang karakteristik mekanik kayu palaka, mendukung penggunaannya sebagai bahan konstruksi di Papua.
Copyrights © 2025