Kerusakan jalan di wilayah pesisir sering terjadi akibat genangan air laut atau banjir rob dengan kadar garam tinggi yang mempercepat penurunan daya ikat aspal terhadap agregat serta stabilitas campuran. Kondisi ini menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan infrastruktur jalan. Di sisi lain, Kota Sorong menghadapi persoalan limbah galian C dari aktivitas penambangan pasir yang berpotensi mencemari lingkungan, namun juga dapat dimanfaatkan sebagai material alternatif perkerasan. Penelitian ini menggunakan metode uji Marshall pada campuran HRS-WC dengan kadar aspal optimum 7,7%, aspal pen 60/70, agregat kasar dari Quarry PII Sorong, serta agregat halus limbah galian C. Benda uji direndam dalam air laut dengan variasi durasi 6, 12, 24, dan 48 jam, baik di laboratorium maupun di lapangan (pesisir pantai Tembok Berlin, Sorong). Parameter yang diamati meliputi VITM, VMA, VFWA, stabilitas, flow, MQ, dan density. Hasil menunjukkan bahwa perendaman air laut memengaruhi seluruh parameter Marshall, dengan kecenderungan penurunan pada stabilitas, VITM, dan MQ, serta fluktuasi pada VFWA, VMA, flow, dan density. Sebagian besar nilai masih sesuai spesifikasi Bina Marga (2018), meskipun kinerja mekanis menurun seiring lamanya perendaman. Perbedaan antara hasil laboratorium dan lapangan dipengaruhi faktor lingkungan alami. Dengan demikian, limbah galian C berpotensi dimanfaatkan, namun ketahanannya di wilayah pesisir memerlukan kajian lebih lanjut.
Copyrights © 2026