Anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) menghadapai tuntutan kerja yang tinggi, resiko penugasan, dan kebijakan sifat kerja yang bersifat nomaden mengharuskan mereka meninggalkan keluarga untuk menjalankan hubungan jarak jauh. Kondisi seperti ini dapat berpotensi tumbuhnya stress kerja. Komunikasi dalam keluarga diasumsikan memiliki fungsi sebagai proses penyangga yang mampu menurunkkan tingkat tekanan yang dialami. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan antara kualitas komunikasi keluarga dengan tingkat stress kerja pada anggota TNI yang sedang berdinas di Yogyakarta dan berstatus LDR. Metode penelitian yang digunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasi. Subjek penelitian adalah anggota TNI di Yogyakarta dengan jumlah 150 responden. Pengambilan data menggunakan skala stres kerja dan skala komunikasi keluarga. Analisis data menggunakan uji korelasi non-parametrik Spearman Rank. Hasil uji menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi keluarga dengan stres kerja ( >0.05) sehingga hasil ini menolak hipotesis awal. Stres kerja pada anggota TNI lebih dominan dipengaruhi oleh beberapa faktor internal seperti beban kerja, tekanan waktu, dan medan lapangan dibandingkan dalam kualitas komunikasi keluarga. Penelitian ini menyarankan bahwa untuk mengurangi stres kerja pada anggota TNI sebaikanya lebih dipusatkan pada penyesuaian kebijakan organisasi serta penerapan program manajemen stres yang professional dan bukan karena semata-mata pada aspek dinamika keluarga.
Copyrights © 2026