Fenomena seks bebas pada perempuan muda masih menjadi isu yang sarat stigma dalam masyarakat Indonesia, khususnya di Yogyakarta yang menjunjung tinggi nilai moral dan budaya Timur. Perempuan yang terlibat dalam perilaku seksual pranikah kerap menghadapi tekanan sosial, rasa bersalah, serta konflik batin yang berpotensi memengaruhi harga diri mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan harga diri pada perempuan pelaku seks bebas di Yogyakarta serta memahami pengalaman subjektif yang memengaruhi pembentukan dan pemulihan harga diri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Subjek penelitian adalah satu orang perempuan berusia 18–25 tahun yang merupakan mahasiswa di Yogyakarta dan pernah melakukan seks pranikah, dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik berdasarkan aspek harga diri menurut Coopersmith, yaitu power, significance, virtue, dan competence. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek mengalami penurunan harga diri yang ditandai dengan rasa bersalah, kecemasan, dan penilaian negatif terhadap diri, terutama akibat stigma sosial dan konflik nilai moral. Namun, terdapat upaya pemulihan harga diri melalui penerimaan diri, dukungan sosial, dan pendekatan religius. Penelitian ini menegaskan pentingnya pemahaman empatik dan dukungan lingkungan dalam membantu pemulihan harga diri perempuan pelaku seks bebas.
Copyrights © 2026