Penelitian ini mengkaji representasi perjuangan untuk kebebasan dan kebahagiaan dalam film The Peanut Butter Falcon (2019) karya Tyler Nilson. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada stigma sosial dan pembatasan institusional yang sering dihadapi oleh individu dengan disabilitas intelektual, yang seringkali merampas otonomi dan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bentuk-bentuk perjuangan fisik dan eksistensial yang dilakukan oleh karakter utama, Zack dan Tyler, serta menganalisis pencapaian kebahagiaan mereka melalui lensa Psikologi Humanistik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan mimetik, menganalisis data sinematik—termasuk dialog, tindakan, dan transformasi karakter—sebagai cerminan realitas manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perjuangan karakter-karakter tersebut manifestasi sebagai perlawanan terhadap label sosial dan pembatasan institusional, yang mengarah pada transisi dari penindasan menuju aktualisasi diri. Melalui pemenuhan harga diri dan rasa memiliki, kedua karakter mencapai kebahagiaan eudaimonia, yang ditandai oleh pertumbuhan pribadi dan kesejahteraan psikologis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kebebasan adalah prasyarat mutlak untuk kebahagiaan autentik dan menyoroti peran film dalam memperjuangkan hak asasi manusia dan narasi inklusif.
Copyrights © 2026