Proses transmisi Al-Qur’an di Nusantara tidak hanya terjadi melalui hafalan dan bacaan, tetapi juga melalui upaya penerjemahan ke dalam bahasa lokal menggunakan aksara Pegon. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis proses vernakularisasi wahyu melalui pendekatan filologis terhadap manuskrip terjemahan Al-Qur’an Pegon dari abad ke-19. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif-filologis yang mencakup deskripsi kodikologis dan analisis tekstual, penelitian ini mengungkap bagaimana teks suci diadaptasi ke dalam kosmologi Jawa tanpa menghilangkan esensi teologisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Manuskrip abad ke-19 menampilkan pola terjemahan antarlini (interlinear) yang dikenal sebagai makna jenggotan, yang berfungsi sebagai alat pedagogis di pesantren; (2) Terdapat penggunaan istilah-istilah lokal (vernakular) untuk menjelaskan konsep metafisika yang kompleks, seperti penggunaan kata Pengeran untuk Rabb; (3) Karakteristik fisik manuskrip, termasuk iluminasi dan pemilihan kertas, mencerminkan perpaduan antara tradisi Islam global dan estetika lokal Nusantara. Artikel ini menyimpulkan bahwa manuskrip Pegon merupakan bukti nyata pribumisasi Islam yang memungkinkan Al-Qur’an dipahami secara mendalam oleh masyarakat lokal melalui bahasa ibu mereka.
Copyrights © 2026