Pembelajaran sains selama ini cenderung dipahami sebagai proses penyampaian pengetahuan ilmiah yang bersifat universal dan bebas nilai, sehingga sering kali terlepas dari konteks sosial dan budaya peserta didik. Kondisi ini menyebabkan pembelajaran sains menjadi kurang bermakna dan sulit dikaitkan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari integrasi kearifan lokal dalam pengajaran sains, khususnya fisika, sebagai landasan pengembangan pembelajaran yang lebih relevan dan berkelanjutan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi filosofis dengan analisis konseptual dan telaah literatur terhadap berbagai sumber ilmiah terkait filsafat pendidikan, filsafat ilmu, serta kajian etnosains dalam rentang 2020–2025. Analisis dilakukan melalui proses reduksi, kategorisasi, dan sintesis argumentatif untuk merumuskan kerangka konseptual integrasi sains dan kearifan lokal. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara ontologis, integrasi kearifan lokal menempatkan fenomena ilmiah sebagai realitas yang tidak terlepas dari pengalaman budaya peserta didik, sehingga konsep fisika dapat dipahami secara lebih kontekstual dan aplikatif. Secara epistemologis, dialog antara pengetahuan ilmiah dan pengetahuan lokal mendorong lahirnya strategi pembelajaran yang lebih partisipatif, reflektif, dan konstruktif, memungkinkan peserta didik membangun pemahaman melalui pengalaman langsung dan interaksi sosial. Secara aksiologis, integrasi tersebut memperkuat dimensi nilai dalam pendidikan sains dengan menumbuhkan kesadaran budaya, tanggung jawab ekologis, serta pembentukan karakter. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis berupa kerangka filosofis integrasi kearifan lokal dalam pengajaran fisika serta implikasi praktis bagi pengembangan desain pembelajaran yang kontekstual, bermakna, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Copyrights © 2026