Pembangunan Dermaga LCM di Pelabuhan Bajoe, Kabupaten Bone, dilaksanakan sebagai upaya untuk menjamin keberlanjutan layanan penyeberangan akibat kerusakan pada dermaga utama tipe Movable Bridge (MB) yang berpotensi menghambat mobilitas penumpang serta distribusi logistik. Keberhasilan pelaksanaan proyek ini sangat bergantung pada penerapan manajemen konstruksi yang sistematis, khususnya dalam perencanaan penjadwalan dan pengendalian sumber daya guna mencapai efisiensi waktu dan biaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis alternatif percepatan pelaksanaan proyek untuk memperoleh solusi yang paling optimal dari sisi durasi dan biaya. Dua opsi percepatan yang dianalisis termasuk penambahan jam kerja tenaga kerja dan penambahan jumlah alat berat pada kegiatan yang berada di lintasan kritis. Analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa penambahan jam kerja dapat menghasilkan penghematan biaya sebesar 4,16% dengan percepatan durasi sebesar 12,50%. DI sisi lain, penambahan alat berat memberikan penghematan biaya sebesar 4,62% dengan percepatan durasi sebesar 2,78%. Berdasarkan hasil tersebut, setiap alternatif memiliki keunggulan sesuai dengan sasaran percepatan, di mana lembur lebih efektif dalam mempercepat durasi penyelesaian proyek, sementara penambahan alat berat lebih unggul dalam pengendalian biaya.
Copyrights © 2026