Penelitian ini mengkaji tafsir ayat-ayat kauniyah Al-Qur’an yang berkaitan dengan konsep kosmogenesis, yaitu proses penciptaan alam semesta (makrokosmos) dan manusia (mikrokosmos), dalam dua model tafsir kontemporer: Tafsir Ilmi terbitan Kementerian Agama Republik Indonesia dan karya tafsir ilmiah independen Ayat-Ayat Semesta oleh Agus Purwanto. Keduanya merepresentasikan pendekatan berbeda dalam menafsirkan ayat-ayat semesta—yang satu berbasis kelembagaan dengan pendekatan tekstual dan kehati-hatian, sementara yang lain berbasis sains modern dengan pendekatan saintifik-filosofis yang lebih interpretatif dan eksploratif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan studi pustaka dan teknik analisis komparatif-kritis, serta menerapkan kerangka hermeneutika linguistik dan saintifik. Kajian difokuskan pada perbandingan aspek metodologis, epistemologis, dan konseptual dalam memahami ayat-ayat kosmogenetik, baik yang berkenaan dengan penciptaan langit dan bumi (QS. Al-Anbiya’: 30, QS. Fussilat: 11–12) maupun penciptaan manusia (QS. Al-Mu’minun: 12–14, QS. Al-Insan: 2). Temuan menunjukkan bahwa meskipun keduanya berupaya menjembatani antara wahyu dan sains, pendekatan dan sumber rujukan keduanya sangat berbeda. Tafsir Ilmi lebih mengandalkan disiplin tafsir klasik dengan penguatan literatur ulama, sedangkan Agus Purwanto mengangkat teori-teori sains mutakhir seperti Big Bang, ruang gelap, DNA, hingga fisika kuantum sebagai jembatan makna Qur’ani. Artikel ini merekomendasikan model tafsir kosmogenetik integratif yang bersifat transdisipliner, dengan menggabungkan ketelitian linguistik-teologis dan keberanian saintifik. Tafsir semacam ini dinilai penting untuk menjawab tantangan zaman modern seperti perubahan iklim, eksplorasi luar angkasa, dan persoalan bioetika, serta memperkuat literasi sains dan tafsir dalam kurikulum pendidikan Islam kontemporer.
Copyrights © 2026