Industri batik Pekalongan masih mengalami keterbatasan inovasi karena integrasi pendidikan seni dengan kebutuhan praktis industri masih lemah, meskipun kota Pekalongan telah diakui UNESCO sebagai “World’s City of Batik”, tetapi sinergi kurikulum, kreativitas, dan pengembangan ekonomi kreatif belum berjalan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pendidikan seni dapat diintegrasikan dalam pengembangan ekonomi kreatif pada industri batik, mengidentifikasi kendala dan peluang kolaborasi, serta merumuskan model integrasi yang aplikatif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam denganpendidik seni, pengrajin batik, pelaku usaha, asosiasi batik, pemerintah daerah, dan konsumen, disertai observasi partisipatif di sentra batik dan lembaga pendidikan. Data sekunder dikumpulkan dari dokumen kebijakan, kurikulum seni, laporan industri, serta publikasi ilmiah. Analisis dilakukan secara interaktif melalui reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi sumber untuk menjaga validitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan seni berperan signifikan dalam meningkatkan kreativitas, inovasi desain, dan strategi branding batik Pekalongan. Namun, kesenjangan antara kurikulum seni dan kebutuhan praktis industri masih menjadi kendala utama. Simpulan penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi pendidikan seni dengan industri batik melalui kolaborasi lintas aktor, penguatan kurikulum aplikatif, serta dukungan kebijakan pemerintah untuk menjaga keberlanjutan budaya sekaligus memperkuat daya saing batik di pasar global.
Copyrights © 2025