Menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945, terjadi perbedaan pandangan di antara para tokoh pergerakan nasional antara golongan muda yang bersikap revolusioner dan golongan tua yang mengutamakan pendekatan diplomatis. Penelitian ini bertujuan menganalisis konflik ideologi antargenerasi tersebut serta menjelaskan perannya sebagai faktor struktural dalam percepatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis melalui studi pustaka terhadap buku sejarah, artikel jurnal ilmiah, dan dokumen terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa golongan muda mendorong proklamasi segera dilaksanakan tanpa menunggu persetujuan Jepang karena memandang kekalahan Jepang sebagai momentum yang harus dimanfaatkan. Sebaliknya, golongan tua memilih strategi diplomasi dengan mempertimbangkan stabilitas politik dan legitimasi internasional melalui lembaga seperti BPUPKI dan PPKI. Ketegangan kedua golongan mencapai puncaknya dalam Peristiwa Rengasdengklok yang pada akhirnya menghasilkan kompromi politik dan mempercepat lahirnya proklamasi pada 17 Agustus 1945. Kebaruan penelitian ini terletak pada penempatan konflik ideologis antargenerasi sebagai variabel analitis utama, bukan sekadar latar peristiwa historis, sehingga memperkaya perspektif historiografi kemerdekaan Indonesia.
Copyrights © 2026