Penyalahgunaan napza masih menjadi masalah yang sangat serius di Indonesia, termasuk tingkat angka kekambuhan yang tinggi pada mantan pengguna napza. Padahal, sebagian dari mereka mampu bangkit dan bahkan mengabdikan diri sebagai konselor adiksi. Penelitian ini penting untuk memahami faktor-faktor resiliensi yang memungkinkan perubahan positif tersebut. Dengan pendekatan kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara terhadap dua mantan pecandu yang kini menjadi konselor di PKBI Kota Semarang. Analisis mengacu pada tiga faktor resiliensi menurut Grotberg: I Have, I Am, dan I Can. Hasil menunjukkan bahwa keduanya memiliki dukungan sosial yang kuat, optimisme, tanggung jawab, serta kemampuan menyelesaikan masalah dan mengelola emosi. Resiliensi ini terbukti menjadi fondasi penting dalam proses pemulihan dan motivasi mereka membantu orang lain. Penelitian ini menunjukkan bahwa resiliensi bukan hanya membantu individu bertahan, tetapi juga tumbuh dan memberi makna baru bagi hidupnya.
Copyrights © 2025