Kesiapsiagaan kegawatdaruratan medis di lingkungan gereja masih terbatas, terutama pada komunitas Orang Muda Katolik (OMK) dan petugas liturgi yang berpotensi menjadi penolong pertama saat terjadi henti jantung atau kondisi darurat lainnya. Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dapat menghambat respons cepat sebelum korban mendapatkan pertolongan medis lanjutan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberdayakan OMK dan petugas liturgi gereja di Jakarta Barat melalui pelatihan BHD untuk meningkatkan kesiapsiagaan kegawatdaruratan medis. Metode yang digunakan adalah pelatihan partisipatif berbasis praktik yang meliputi penyampaian materi, demonstrasi, praktik langsung, dan simulasi kasus, disertai evaluasi pretest–posttest. Analisis menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank karena data tidak berdistribusi normal. Hasil menunjukkan peningkatan skor pengetahuan yang signifikan (Z = -5,391; p < 0,001) dengan 82% peserta mengalami peningkatan dan effect size besar (r = 0,76). Sebanyak 85% peserta mencapai kategori kompeten dalam keterampilan kompresi dada sesuai pedoman AHA 2020, serta terbentuk 24 kader internal BHD sebagai penolong pertama dalam kegiatan liturgi. Dampak kegiatan tidak hanya berupa peningkatan skor, tetapi juga penguatan sistem kesiapsiagaan komunitas melalui pembentukan kader, penyusunan modul internal, dan rencana pelatihan ulang berkala. Model pelatihan ini berpotensi direplikasi pada komunitas keagamaan atau organisasi masyarakat dengan karakteristik serupa.
Copyrights © 2026