Pelatihan Menggambar Dasar bagi anak perempuan usia 10–19 tahun di Panti Asuhan Aisyiyah Humairoh Palembang dilaksanakan untuk menjembatani kesenjangan antara tingginya minat menggambar dan keterbatasan akses pendidikan seni yang sistematis, pengajar kompeten, serta sarana pendukung di panti. Program ini bertujuan meningkatkan keterampilan teknis menggambar (ketepatan bentuk, teknik arsir, pemanfaatan bidang, dan kerapian), penguasaan alat dan media gambar, serta rasa percaya diri dan keberanian mengekspresikan gagasan visual, sekaligus menguatkan relevansi pendidikan seni dengan agenda SDGs, khususnya Tujuan 4, 3, 5, dan 10. Kegiatan dirancang dalam bentuk workshop partisipatif yang memadukan ceramah singkat, presentasi visual, demonstrasi langkah demi langkah, latihan terstruktur, dan umpan balik langsung, dengan peserta sebanyak 11 anak perempuan penghuni panti. Data dikumpulkan melalui rubrik penilaian karya sebelum–sesudah pelatihan, lembar observasi, wawancara singkat, dan kuesioner kepuasan, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil menunjukkan peningkatan rata‑rata skor keterampilan menggambar dari 1,8 menjadi 3,2 pada skala 1–4 dengan kenaikan konsisten pada seluruh aspek, tingkat kehadiran 100%, skor keaktifan 3,4, serta lebih dari 80% peserta menyatakan ingin melanjutkan latihan menggambar setelah kegiatan. Secara kualitatif, peserta melaporkan bertambahnya keberanian untuk menunjukkan karya, sedangkan pengelola panti mulai merencanakan kegiatan menggambar sebagai rutinitas mingguan. Temuan ini mengonfirmasi bahwa pelatihan Menggambar Dasar berbasis prinsip konstruktivisme dan metode demonstrasi dapat menjadi strategi efektif untuk mengembangkan keterampilan teknis, kreativitas, dan pemberdayaan psikososial anak panti asuhan, sekaligus memberikan kontribusi ilmiah berupa penerapan rubrik penilaian terukur dalam konteks pengabdian kepada masyarakat. Basic Drawing Training for Children at the Aisyiyah Humairoh Orphanage Abstract The Basic Drawing Training program for girls aged 10–19 years at the Aisyiyah Humairoh Orphanage in Palembang was implemented to bridge the gap between their high interest in drawing and their limited access to systematic art education, competent instructors, and adequate facilities at the orphanage. This program aims to improve technical drawing skills (shape accuracy, shading techniques, use of drawing space, and neatness), mastery of drawing tools and media, as well as self‑confidence and the courage to express visual ideas, while strengthening the relevance of art education to the SDGs agenda, particularly Goals 4, 3, 5, and 10. The activity was designed as a participatory workshop combining short lectures, visual presentations, step‑by‑step demonstrations, structured exercises, and direct feedback, involving 11 female residents of the orphanage as participants. Data were collected through a rubric‑based assessment of pre‑ and post‑training artworks, observation sheets, short interviews, and satisfaction questionnaires, then analyzed using descriptive quantitative and qualitative approaches. The results show an increase in the average drawing skill score from 1.8 to 3.2 on a 1–4 scale, with consistent improvement across all aspects, 100% attendance, an activeness score of 3.4, and more than 80% of participants expressing a desire to continue practicing drawing after the program. Qualitatively, participants reported greater confidence in showing their drawings, while the orphanage management began planning drawing activities as a weekly routine. These findings confirm that Basic Drawing Training based on constructivist principles and demonstration methods can be an effective strategy to develop technical skills, creativity, and psychosocial empowerment of orphanage children, while also providing a scientific contribution through the application of a measurable assessment rubric in a community service context.
Copyrights © 2026