ABSTRAK Peresean merupakan seni tradisional masyarakat Sasak di Lombok yang mencerminkan nilai-nilai keberanian, kehormatan, dan solidaritas sosial. Dalam perkembangannya, peresean mengalami transformasi makna dan fungsi seiring dengan dinamika zaman, terutama di tengah arus modernisasi dan industri pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana budaya peresean mengalami perubahan dalam konteks modern serta bagaimana masyarakat Sasak memaknai pertarungan fisik yang tampak keras tersebut sebagai bentuk harmoni sosial. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan metode observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pelaku budaya (pepadu, pekembar, tokoh adat, dan masyarakat), serta studi pustaka terhadap literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun peresean mengandung unsur kekerasan fisik, masyarakat Sasak menempatkannya sebagai ekspresi simbolik dari pengendalian diri, sportivitas, dan penyelesaian konflik secara ritual. Di era modern, pertunjukan peresean tidak hanya menjadi ajang pelestarian tradisi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai komoditas wisata yang mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Namun demikian, komersialisasi peresean menimbulkan dilema antara pelestarian nilai-nilai asli dengan tuntutan hiburan wisata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa budaya peresean berada dalam ketegangan antara pelestarian tradisi dan penyesuaian terhadap perubahan sosial, namun tetap mempertahankan esensinya sebagai simbol harmoni dalam kehidupan masyarakat Sasak.
Copyrights © 2026