Banjir merupakan bencana hidrometeorologi yang paling sering terjadi di Indonesia, termasuk di Sub-DAS Batang Tebo yang mencatat 30 kejadian banjir selama periode 2019–2024. Penelitian ini bertujuan memetakan bahaya banjir di Sub-DAS Batang Tebo menggunakan metode Geomorphic Flood Index (GFI) berbasis data Digital Elevation Model (DEM), serta menguji akurasi model terhadap data genangan aktual dari citra Sentinel-1 yang diolah melalui Google Earth Engine (GEE). GFI dihitung secara sistematis menggunakan dua parameter utama, yaitu Height Above Nearest Drainage (H) dan Hydraulic Radius Proxy (hr). Hasil pemodelan menunjukkan bahwa kelas bahaya rendah mendominasi wilayah seluas 279.080,56 ha (65,4%), diikuti kelas sedang 90.913,56 ha (21,3%), tinggi 31.186,86 ha (7,3%), dan sangat tinggi 25.561,28 ha (6,0%). Lima kecamatan termasuk kelas bahaya sangat tinggi: Kecamatan Tebo Tengah, Kecamatan Batin II Babeko, Kecamatan Bungo Dani, Kecamatan Pasar Muaro Bungo, dan Kecamatan Bathin III. Uji akurasi menggunakan True Positive Rate (TPR) menghasilkan nilai 0,64 pada base case (GFI 2,3), sedangkan Frequency Ratio (FR) meningkat konsisten dari 0,11 pada kelas rendah hingga 7,23 pada kelas sangat tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa metode GFI layak digunakan sebagai pendekatan awal pemetaan bahaya banjir berbasis geomorfologi.
Copyrights © 2025