Sekolah Lapang Gambut menjadi pendekatan pembelajaran partisipatif untuk meningkatkan kapasitas petani dalam budidaya sayuran organik sekaligus pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara ramah lingkungan di lahan gambut. Desa Kuat Sihir (Kampung Gambut Siantan Hilir) merupakan sentra hortikultura di Pontianak yang memiliki potensi produksi tinggi, namun rentan terhadap serangan OPT dan penurunan kesuburan tanah apabila budidaya tidak dikelola secara adaptif. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kemampuan petani dalam menerapkan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) berbasis ekologi pada sistem pertanian organik. Pelaksanaan dilakukan selama delapan bulan melalui demonstrasi lapang, ceramah, praktik identifikasi OPT dan musuh alami, serta pemasangan komponen pengendalian hayati. Tahapan kegiatan mencakup pengolahan lahan, penambahan amelioran, penyemaian, transplanting, penanaman tanaman repellant, pemasangan perangkap kuning dan hserangga, serta penggunaan pestisida nabati sebagai alternatif pengendalian kimia. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan peserta dalam memahami tata laksana budidaya organik, teknik konservasi air gambut, monitoring OPT, dan penerapan PHT secara bertahap. Evaluasi pra–pasca kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta dari 33–80% menjadi 90–100% pada seluruh indikator, disertai perubahan pola pikir bahwa pestisida kimia seharusnya menjadi pilihan terakhir setelah ambang kendali terlampaui. Secara umum, penerapan PHT pada sekolah lapang menghasilkan perbaikan kualitas dan produktivitas sayuran serta mengurangi ketergantungan pestisida sintetis. Disimpulkan bahwa sekolah lapang efektif dalam memperkuat kompetensi petani dan keberlanjutan pertanian gambut berbasis organik. Disarankan agar replikasi kegiatan dilakukan di wilayah gambut lain serta pengembangan inovasi pengendalian hayati terus diperluas untuk menjaga keberlanjutan agroekosistem gambut.
Copyrights © 2026