Jus jambu biji merah merupakan minuman yang banyak digemari masyarakat karena rasanya segar dan mengandung vitamin serta antioksidan tinggi. Namun, proses pengolahan dan penyajian yang tidak higienis dapat menyebabkan kontaminasi mikroba seperti bakteri, kapang, dan khamir yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat cemaran mikrobiologis pada jus jambu biji merah yang beredar di Kelurahan Harjosari, Medan , dengan membandingkan produk yang dijual di pinggir jalan dan produk bermerek yang dijual di swalayan. Metode yang digunakan adalah Angka Lempeng Total (ALT) untuk menghitung jumlah bakteri dan Angka Kapang Khamir (AKK) untuk menghitung jumlah kapang dan khamir. Pengenceran dilakukan dengan menggunakan larutan pengencer Lactose Broth (LB), uji Angka Lempeng Total (ALT) dilakukan pengenceran bertingkat hingga 10-4 sampel yang telah diencerkan ditambahkan ke dalam media Plate Count Agar (PCA) pada suhu 45°C dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C. Uji Angka Kapang Khamir (AKK) dilakukan pengenceran bertingkat hingga 10-3 sampel yang telah diencerkan ditambahkan ke dalam media Potato Dextrose Agar (PDA) pada suhu 45°C dan diinkubasi selama 48 jam pada suhu 20-25°C. Koloni bakteri dan jamur dihitung menggunakan Quebec® colony counter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar jus jambu biji merah yang dijual di pinggir jalan memiliki nilai ALT dan AKK yang melebihi batas maksimum yang ditetapkan oleh SNI 3719:2014 (ALT ≤ 1×10⁴ koloni/mL dan AKK ≤ 1×10² koloni/mL), sedangkan produk bermerek di swalayan masih berada dalam batas aman. Dapat disimpulkan bahwa kualitas mikrobiologis jus jambu biji merah sangat dipengaruhi oleh faktor sanitasi, proses pengolahan, dan cara penyimpanan. Penelitian ini memberikan informasi penting mengenai kualitas mikrobiologis jus jambu biji merah serta kesadaran akan pentingnya kebersihan dalam pengolahan minuman.
Copyrights © 2026