keadilan dan kesetaraan kesempatan, bertujuan mengakui dan menghargai keberagaman peserta didik serta memahami potensi unik anak berkebutuhan khusus (ABK), alih-alih mengukur kepatuhan terhadap standar tunggal. Implementasi asesmen formal di sekolah inklusi menuntut dilakukannya modifikasi dan akomodasi yang ekstensif. Jenis akomodasi yang paling umum diterapkan meliputi penyesuaian waktu tambahan dan perubahan format materi (seperti penggunaan teks berukuran besar dan soal bergambar), yang semuanya didasarkan pada hasil asesmen individual dan diselaraskan dengan Program Pembelajaran Individual (PPI). Praktik lapangan menunjukkan bahwa mayoritas pendidik sering memodifikasi isi dan format asesmen standar. Modifikasi rutin ini dilandasi prinsip keadilan pedagogis, menjamin kesempatan setara bagi setiap siswa untuk menunjukkan kompetensi terbaiknya. Lebih dari sekadar alat evaluasi, asesmen termodifikasi dinilai sebagai kebutuhan yang sangat mendesak dan berfungsi sebagai instrumen diagnostik vital. Modifikasi ini secara efektif memetakan kebutuhan belajar siswa, memfasilitasi intervensi yang tepat sasaran, dan secara langsung berdampak pada peningkatan hasil belajar serta kepercayaan diri ABK. Meskipun efektivitasnya bersifat kondisional (memerlukan konsistensi, kolaborasi, dan basis data observasi), asesmen termodifikasi bertransformasi menjadi representasi formal dari penghargaan sekolah terhadap proses belajar dan potensi unik setiap anak.
Copyrights © 2026