Background: KWT Karya Mekar mengelola kebun seluas 13.000 m² yang menghasilkan sekitar satu ton limbah kulit manggis dari dua ton panen, menimbulkan bau dan persoalan lingkungan. Pemanfaatannya melalui prinsip kimia hijau menjadi penting untuk menghasilkan bioproduk bernilai ekonomi. Sirup kulit manggis telah diproduksi, namun penjualannya masih rendah karena proses tradisional, penggunaan gula berlebih, penambahan natrium benzoat, label yang kurang jelas, dan keterbatasan manajemen digital. Metode: Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah Asset-Based Community Development (ABCD)—Discovery, Dream, Design, dan Destiny. Hasil: Kegiatan ini meningkatkan kapasitas KWT dalam produksi pangan fungsional. Produksi sirup meningkat dari 10 menjadi 20 botol per batch dan pemahaman penggunaan aplikasi OIKU meningkat dari 15% menjadi 100%. Kesimpulan: KWT Karya Mekar telah berhasil meningkatkan produksi dan penjualan sirup dan nugget dan telah berhasil merapkan GMP dan aplikasi OIKU dan penjualan secara online sebagai upaya peningkatan manajemen produksi dan usaha.
Copyrights © 2026