Penelitian ini mengkaji bagaimana algoritma media sosial dan viralitas mempengaruhi konflik digital pada era post-truth, khususnya dalam perselisihan antara komunitas Knetz dan SEAblings di media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui studi pustaka serta pengamatan terhadap unggahan dan interaksi pengguna pada platform X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa algoritma media sosial cenderung memprioritaskan konten yang menghasilkan interaksi tinggi, seperti komentar, likes, dan shares. Akibatnya, konten yang bersifat kontroversial dan memicu emosi terkait konflik tersebut menyebar lebih cepat dan mendominasi linimasa pengguna, sementara unggahan yang berisi klarifikasi atau permintaan maaf justru mendapatkan visibilitas dan interaksi yang lebih rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pada era post-truth, opini publik di media sosial sering kali lebih dipengaruhi oleh reaksi emosional dan logika viralitas dibandingkan fakta objektif, sehingga narasi konflik lebih mudah diperkuat sementara upaya rekonsiliasi menjadi kurang terlihat dalam ruang diskursus publik digital
Copyrights © 2026